Tampilkan postingan dengan label Matrikulasi Batch 8 IIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matrikulasi Batch 8 IIP. Tampilkan semua postingan


Menulis surat untuk orang terkasih selalu menyimpan keharuan tersendiri. Inilah misi terakhir matrikulasi Institut Ibu Profesional. Menulis surat cinta untuk suami, anak, atau orang tua. Lalu, menyampaikan aliran rasa saat menulis, mengirim, dan mendapatkan balasan suratnya. 

Pada dasarnya saya cukup sering mengirim surat kepada suami. Sebab, saya lebih nyaman menyampaikan seluruh uneg-uneg lewat tulisan. Pun menulis kata-kata sayang padanya. Bukankah cinta itu memang harus disampaikan meski kami tahu bahwa kami saling sayang? Tentu sah-sah saja jika dilakukan pada tempatnya. It's a secret between god and us.

Nah, setiap kali saya menuliskan apa yang saya rasakan selama bersama ayah dari anak saya itu, kristal bening kerap mengaburkan pandangan. Turun satu per satu menjelma gerimis. Kata syukur tak henti terpanjatkan atas salah satu anugerah berupa jodoh yang Allah berikan. 

Dan setelah saya kirimkan surat itu, beberapa menit kemudian saya mendapatkan surat balasan. Sebuah pesan manis yang menghangatkan jiwa. Kembali saya merenung. Introspeksi akan perjalanan biduk rumah tangga kami yang baru seumur jagung. Evaluasi kekurangan diri dan saling menguatkan. 

Semoga rumah tangga kami sakinah, mawaddah wa rahmah, diridhoi-Nya serta langgeng sampai akhirat kelak, aamiin. 

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah


Kening saya berkerut membaca misi 7 kali ini. Ada tanda tanya besar yang bercokol di pikiran. Setelah menyimak video siaran langsung bersama WI bunda Maria Ulfah dan diskusi di WAG bersama WI bunda Farda, saya masih berusaha menemukan benang merah antara penjelasan para WI dengan misi connecting the dots. 

Seperti apa aku ini? 
Apa yang membuatku unik? 
Nilai-nilai apa yang aku miliki? 
Apa yang aku perjuangkan? 
Apa kesamaanku dengan Institut Ibu Profesional? 

Misi 7 mengenai connecting the dots ini benar-benar butuh perenungan mendalam. Diri kita sendiri bahkan terkadang belum sepenuhnya mampu mengenal pribadi kita. 

Lalu saya menemukan clue dari WI bunda Maria, mengenai connecting the dots yang dipopulerkan oleh Steve Jobs. Bahwa titik-titik dalam hidup kita adalah masa lalu yang akan membentuk jalinan peristiwa yang kita alami sekarang. 

Intinya memang tidak ada yang tiba-tiba terjadi dalam hidup. Allah memang yang merancang takdir kita, dan kitalah yang "menginginkannya" menuju kesana. Seperti saat saya bergabung dengan Institut Ibu Profesional. Sebelumnya saya sudah punya ketertarikan untuk belajar mengenai ilmu parenting. Dan bertemu dengan Ibu Profesional seolah menjadi sekolah tempat saya kembali menuntut ilmu mengenai bagaimana mengembangkan diri sebagai seorang ibu. 

Dan setelah misi 7 berhasil dilalui, inilah yang kami peroleh.. 



#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
Assalamu'alaikum. Hai-hai para ibu penjelajah samudera. Petualangan kita kali ini semakin seru, ya. Terus menggali diri untuk menemukan potensi berupa mutiara tersembunyi yang ada dalam diri setiap ibu. 

Setelah mendengarkan penjelasan WI @Bunda Maria Ulfa mengenai piramida Ibu Profesional dan karakter moral Ibu Profesional serta berdiskusi dengan WI @Bunda Farda, saya merasa semakin tercerahkan dan yakin untuk memilih Institut sebagai rumah belajar. Misi ke-7 kali ini adalah tentang connecting the dots, sebagaimana yang dipopulerkan oleh Steve Jobs. Bahwa segala pengalaman kita di masa lalu berkoneksi membentuk jalinan titik-titik yang pada akhirnya akan bermuara pada hal yang ingin dicapai. Maka, perbanyaklah titik-titik tersebut. 

Misi 7 : Connecting the Dots


Dan inilah titik-titik saya.. Sehari-hari saya menjalani peran sebagai seorang full time mommy yang hobi menulis. Saya senang belajar, terutama mengenai segala hal yang berhubungan dengan parenting dan dunia kepenulisan. Hasil belajar tersebut kemudian saya coba terapkan dalam keseharian. 

Baca juga:

Parenting menjadi bekal perjalanan saya dalam menemani tumbuh kembang si kecil. Sementara menulis merupakan sarana menyalurkan segenap gagasan dan perasaan, sekaligus tempat untuk Me-Time, hehe. 

Nah, dalam proses belajar tersebut ada nilai-nilai yang menjadi sumbu agar saya tetap semangat untuk belajar dan berkarya, yakni curiosity (rasa ingin tahu) dan semangat berbagi melalui tulisan. Semoga tulisan-tulisan tersebut dapat menjadi ladang dakwah dan media berbagi kebaikan, aamiin. 

Ya, saya tengah berjuang mengenali diri sepenuhnya dan berbenah untuk melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik. 

Menilik kembali jejak langkah saya beberapa jengkal ke belakang, titik-titik dalam hidup saya tersebut pada akhirnya menghubungkan saya dengan Ibu Profesional. Kembali saya mengucap syukur karena telah dipertemukan-Nya dengan sebuah forum belajar untuk para Ibu dan calon Ibu, khususnya Institut Ibu Profesional. Saya berharap dapat mengembangkan diri dan memberikan manfaat bagi sesama, sebagaimana yang selalu didengungkan oleh para Widyaiswara. Proses belajar bermuara pada akhlak mulia yang tercermin dari sikap percaya diri, terus mengembangkan diri, mampu mendidik dan mengembangkan anak, dan hebat mengelola keluarga.

#matrikulasibatch8
#navigasidanberaksi
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
Setiap orang tentu pernah mengalami suatu masa dimana ia merasa terpuruk. Merasa kalah, lemah, dan kecenderungan negatif lainnya. Demikian pula saya. Masa-masa ini membuat hari-hari gelisah. Hati tak tenang, rasanya uring-uringan.



Baca juga:


Pada titik itu rasanya saya ingin berhenti, berbalik, atau bahkan lari. Tapi saya sadar semua itu sama sekali tak menyelesaikan. Yang ada hanya keputusasaan yang terus menggerus semangat. Saya ingin menyerah. Melambaikan bendera putih. Tapi ada sesuatu yang lain yang kemudian mendorong saya, meraih tangan saya, mengajak saya bangkit. “Hey, kamu tak sendiri,” katanya. “Ada jutaan kepala yang pernah mengalami hal yang sama. Bahkan mereka berada dalam posisi yang lebih buruk darimu.”
Lantas, apa yang membuat mereka bangkit? Apa yang membuat mereka pada akhirnya kembali berlari mengejar mimpi? Terus merangkak walau berat, tetap berjalan meski tertatih. “Ingatlah kembali hakikat penciptaanmu di dunia ini,” dengungnya lagi. Saya seolah tertampar. Apa yang saya lakukan selama ini sudah sejalan dengan apa yang diinginkan-Nya saat menciptakan kami, yang dikatakan malaikat sebagai mereka yang membuat kerusakan di bumi? 

Neuron dan sinapsis dalam otak saya berkelindan mengeja setiap adegan kehidupan yang digariskan-Nya. “Come on, apa memaafkan sesuatu yang buruk di masa lalu sesulit itu? Tidak! Kau hanya menyimpan api. Yang jika terus kau pelihara akan menjadi noda hitam yang bercokol hatimu.” Saya mulai berusaha memaafkan. Perlahan, meski terkadang tak mudah. Tapi saya harus bisa.

Baca cara menyembuhkan inner child disini. 


Adegan lain yang merupakan manifestasi munajat panjang saya menjelma. Sesuatu kembali menampar saya. “Bukankah ini yang selama ini kau idam-idamkan? Lantas, kenapa sekarang kau abaikan, seolah ia tak pernah menjadi bagian dari asa yang kau rajut?” Ya, saya harus berbenah. Menata hati lebih bijak lagi. Mengatur segala urusan. Menempatkan skala prioritas agar tak ada yang terdzalimi. Jundi kecil itu, dia anugerah terindah-Nya, yang tak semua orang mendapatkan amanah tersebut. Dikirim langsung oleh-Nya dengan ekspedisi bernama kesabaran yang dibawa kurir doa. Tidak, saya tak boleh menyia-nyiakannya. Terima kasih Ya Rabb telah mengantarkan saya menjadi bagian dari Institut Ibu Profesional untuk bisa belajar lebih baik lagi dalam mengelola diri menjalani peran sebagai seorang ibu. Simak kisah saya disini.

Tak selesai sampai disitu, ketakutan lain membayang. Menjelma sesuatu hitam pekat yang meninggalkan getir. Ya, impian untuk berdakwah melalui tulisan. Mimpi yang saya rajut semenjak manusia belum mengenal kata smartphone. Akankah ia kandas begitu saja? Tidak! Saya sadar pada akhirnya saya takkan pernah bisa melepasnya walau berat.

Intip tips-tips seputar dunia penulisan disini.


Coz I know I can be better. 


#matrikulasibatch8
#navigasidanberaksi
#institutibuprofesional
#belajardarirumah


Permata yang di dapat setelah menyelesaikan misi memaknai ibu profesional


Setelah para mahasiswi Institut Ibu Profesional menyelesaikan misi menggali makna ibu profesional, sekarang tiba saatnya kami belajar mengenai core value yang ada di dalam Ibu Profesional. Core value adalah nilai yang dihargai, dijunjung tinggi, dan dijalankan dengan penuh komitmen. Jika saat memaknai ibu profesional, setiap individu mempunyai pendapatnya masing-masing, core value ini sama dan berlaku secara menyeluruh di Ibu Profesional. 


Baca juga:


Dalam sesi diskusi dengan WI Riefki Amalia, kami berdiskusi mengenai peran penting seorang Ibu bagi kliennya yaitu suami dan anak-anaknya. Kesuksesan seorang Ibu profesional bisa diukur dari seberapa bahagia dan berhasil ia menjalankan peran dalam keluarga. 

Ibu harus berubah terlebih dahulu untuk bisa mengubah. Sebab, happiness ia not searched, it is created. Jika seorang ibu menjalankan perbanyak dangan bahagia, maka akan berdampak pada suami dan anak-anaknya. 

Ada 5 Core Value di Ibu Profesional, yaitu:
1. Belajar
2. Berkembang
3. Berkarya
4. Berbagi
5. Berdampak

Untuk core value yang pertama, yaitu belajar. Sebagai manusia, kita akan terus belajar dari buaian hingga ke liang lahat. Belajar adalah ingin mengetahui dan menerapkan hal-hal yang sudah dipelajarinya. Learning is for being. Namun, seorang ibu tidak dituntut harus menguasai semua ilmu. Itulah pentingnya kita memilah ilmu yang ingin kita pelajari. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya tsunami informasi yang menyebabkan ilmu-ilmu tersebut akhirnya hanya menjadi tumpukan pengetahuan yang tidak terpakai.
Setelah melalui perenungan mendalam #tsah, berikut adalah beberapa ilmu yang ingin saya pelajari dan kuasai. 

sumber: Matrikulasi Batch 8 IIP
Core value pertama : Belajar


#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah


Apa makna ibu profesional untukmu?

Apakah seorang ibu profesional harus mampu melakukan segalanya?


Baca juga:
3 Tips Puasa Ramadhan Aman untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
7 Tahapan Melatih Anak Berpuasa Ramadhan


Bagi saya, ibu profesional adalah ibu yang sholihah, ikhlas menjalankan peran karena-Nya, menerima dirinya dan mempunyai manajemen waktu yang baik.


Semoga Allah membimbing saya menjadi sebaik-baiknya ibu bagi anak-anak saya, aamiin...

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belahardarirumah

Awalnya, saya sempet bingung saat mendapatkan tugas pertama. Saya masih berusaha mencerna dan memahami gaya bahasa indah yang digunakan oleh tim Ibu Profesional.


Baca juga:
- Artikel Mega di suaramuslim.net
Kisah Inspiratif FLP Sidoarjo selama #dirumahaja


Setelah mengerjakan tugas demi tugas setiap pekannya, saya akhirnya bisa menarik "benang merah"nya. Bahwa, menjadi mahasiswi di Institut Ibu Profesional tidak hanya mengajak kita untuk belajar dan berbagi. Kita juga diajarkan untuk mengerjakan tugas tepat waktu dan menghargai setiap forum dengan mengerjakan tugas dan terlibat aktif di dalamnya.

Yang menarik bagi saya, beberapa tugas dibuat dalam bentuk cerita dan diakhiri dengan pertanyaan yang merangsang untuk berpikir kritis. Itulah sebabnya disebut sebagai "Nice Homework". Sekarang saya lebih menikmati dan semakin menanti-nanti setiap tugas yang diberikan.

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
Dalam berkomunitas ada CoC (Code of Conduct), yaitu pedoman berperilaku. Di Institut Ibu Profesional, CoC yang dibuat ini diharapkan dapat dipahami dan diterapkan selama menjadi mahasiswa IIP. Jika tidak, akan ada konsekuensi yang diterima, seperti keluar atau dikeluarkan dari IIP dan tidak diperkenankan bergabung kembali. CoC ini dibuat untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan perilaku yang tidak baik serta gesekan antara individu dan benturan kepentingan.



Baca juga:
Galau menunggu momongan? Yuk intip tips berikut!
Cegah covid-19, simak 7 tips untuk memperkuat sistem imun ini!



#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardirumah

Dalam berkomunitas, ada beberapa aturan yang harus diperhatikan demi kebaikan dan kenyamanan bersama. Aturan ini dibuat agar semua pihak senang dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.



Di Institut Ibu Profesional, semua hal boleh dilakukan saat belajar, kecuali:


Baca juga :
Tips Memiliki Keturunan
Resume Kulwap Parenting Lengkap


1. Kritik
Kritik memang perlu, namun kritik yang tidak membangun justru hanya akan menjatuhkan. Dibandingkan memberikan kritikan pedas, saran yang membangun lebih baik diberikan untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

2. Ghibah dan fitnah
Membicarakan keburukan orang lain meskipun benar adanya (ghibah), terlebih kebohongan (fitnah) sebaiknya dihindari. Tidak ada orang yang suka di ghibah dan di fitnah.

3. (Menyinggung) SARAT
Indonesia terdiri dari beragam suku. Alangkah indahnya jika saling menghargai suku, agama, rasa, antar golongan agar tercipta kerukunan antar umat. Hindari pula membully orang lain seperti menyindir bentuk tubuh (body shaming) untuk menjaga perasaannya.

4. Khilafiyah
Perbedaan pendapat yang terjadi kerap kali menjadi penyebab perpecahan. Ada baiknya untuk saling menghargai pendapat orang lain saat berkomunitas.

5. Kepentingan (pribadi dan golongan)
Jangan sampai akses untuk memperoleh kemudahan dijadikan landasan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan golongan.

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardirumah

Tidak ada sekolah menjadi ibu. Semuanya dilalui dengan proses dan nasihat pengalaman dari orang-orang terdahulu. Sementara teori-teorinya bisa didapatkan dari ilmu parenting. Tapi, saya merasa Komunitas Ibu Profesional ini adalah sekolah untuk menjadi ibu yang lebih baik. Seorang ibu yang mendedikasikan dirinya untuk keluarga dan anaknya, bukan sekedar karena gelar sebagai ibu. Seorang ibu harus bekerja secara profesional, begitu kata Ibu Septi, founder Ibu Profesional.

Komunitas Ibu Profesional ini didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandari yang saat itu jenuh dan galau menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah apa yang dicita-citakannya selama ini. Beliau mengesampingkan keinginan menjadi wanita karir ketika berkomitmen menikah dengan sang suami. Suami beliau ingin Ibu Peni mendidik anak-anak mereka sendiri. Saya juga mengalami apa yang dulu Ibu Peni rasakan. Beliau menangis hampir setiap hari. Merasa bosan di rumah dan tak bisa mengaktualisasi diri. Merasa gagal menjadi ibu yang baik. Pada akhirnya, beliau menanggalkan semua kesedihannya dengan bantuan sang suami, hingga Ibu Profesional berkembang dengan pesat seperti sekarang.


Pertama kali saya kenal dengan Ibu Profesional pada tahun 2018 saat sedang blog walking dan membaca artikel yang ditulis oleh pengasuh rubrik parenting sebuah majalah. Disitu saya membaca pengalaman beliau yang menjalani hari-hari bahagia sebagai anggota Institut Ibu Profesional. Menarik, pikir saya waktu itu. Terlebih saya sangat suka membaca buku-buku parenting dan tertarik dengan ilmu yang satu ini.

Akan tetapi, saya harus menunggu beberapa bulan untuk mendaftar menjadi anggota. Kebetulan saat itu pendaftaran sudah lewat dan harus menunggu sesi selanjutnya. Setelah mendaftar dan masuk grup FB, ternyata saya harus menunggu lagi karena ketinggalan informasi. Berkutat dengan batita membuat saya terkadang lupa dan tak sempat mengikuti informasi terkini di grup. Walhasil, saya tidak bisa mengisi form penjurusan karena sudah lewat tenggat waktu yang telah ditetapkan. Konsekuensinya, saya harus menunggu beberapa bulan lagi untuk ikut kelas awal yang disebut Matrikulasi. Dan di setiap tahapan kelas akan ada Nice Homework yang harus dikerjakan untuk bisa lulus dan naik ke tahapan berikutnya. Beberapa kali absen mengerjakan tugas bisa berakhir pada kegagalan. Dari situ saya belajar bahwa kedisiplinan dan komitmen adalah bekal untuk menjadi mahasiswi Institut Ibu Profesional (IIP).

Apa sih harta karun terpendam setiap ibu? Saya rasa harta karun itu adalah mutiara istimewa berupa potensi yang Allah anugerahkan kepada setiap ibu. Selanjutnya, menjadi tugas kita untuk menemukan potensi diri dan mengaplikasikannya dalam mendidik anak-anak kita. Melakukan apa yang disukai dan mengurangi hal-hal yang tidak disukai, seperti kata Ibu Septi. Nah, diantara tiga komponen yang ada dalam Ibu Profesional, yaitu Institut (perkuliahan mengenai parenting), komunitas (berkarya dalam rumah belajar) dan sejuta cinta (berbagi dan berdaya), saya memilih Institut Ibu Profesional (IIP).



#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah