Tampilkan postingan dengan label It is silly but I like it. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label It is silly but I like it. Tampilkan semua postingan



-Tengsin gegara gagal paham-
Seorang lelaki paruh baya datang ke rumah. Ia memakai topi lebar yang menutupi kepala. Pakaiannya lusuh.
"Nuwun sewu.." katanya.
Saya yang saat itu masih SMP masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil uang receh. Lantas saya mengasurkan uang tersebut kepadanya.
"Lho, saya nyari bapaknya mbak. Bapaknya ada?"
Ups! Betapa malunya saya saat itu. Saya menjawab dengan gelagapan, "Oh iya pak, silahkan masuk."
Ternyata bapak itu adalah petani. Saya salah sangka melihat penampilannya. Saya yang juga belum mengerti bahasa jawa krama inggil berpikir nuwun=minta, sewu=seribu (uang) jadi saya memberinya uang.
*****

-Seronok kah?-
Saat menjadi mahasiswa pertukaran pelajar di Brunei Darussalam, saya banyak terpapar kosakata bahasa melayu. Suatu ketika setelah kami memainkan Paint Ball seorang teman bertanya, "Seronok kah?"
"Hah? Seronok?" otak saya sibuk mencerna kata yang diucapkannya.
"Siuk kah? Fun kah?" tanyanya lagi.
"Oooh... Fun. Yeah, it's fun."
*****

-Are you fool?-
Di suatu petang dalam acara gathering dengan teman-teman International Club, seorang kawan dari Pakistan menawarkan makanan. "Thanks, I am fuuul." Saat itu saya sudah kenyang.
Senior yang berasal dari Indonesia bertanya seraya menaikkan alisnya, "Hah? You are fool? Are you full or fool?"
OMG! Saya menyadari kebodohan saya. Kata 'full' (kenyang) yang pengucapannya dipanjangkan bisa berubah makna menjadi 'fool' (bodoh).
"I am full"

*****

-Speak Indonesian, please-
Mama saya sama tidak mengertinya dengan saya tentang bahasa jawa krama inggil.
Saat berinteraksi dengan ibu-ibu istri teman kantor papa, salah seorang diantaranya bertanya, "Njenengan ngasta ten pundi?"
Mama hanya diam tak menjawab. Saat di rumah beliau baru bertanya pada papa.

Lain waktu, seorang ibu yang lain berkata pada Mama, "Monggo tampak asta.." Karena tidak mengerti, mama pun terdiam beberapa lama. Ibu tersebut lantas mengangsurkan pulpen dan kembali berkata, "Monggo tanda tangan." Oalaaah.....
*****


Setiap pagi, seekor kucing selalu setia menanti kami di teras rumah. Suami saya menamainya 'Kety'. Ia lantas mengeong saat mendapati kami membuka pintu rumah. Tak lama kemudian terdengar bunyi "Duuuuuttt..." yang cukup keras. Spontan suami saya berujar, "Lho, Kety kentut." Namun yang saat itu tidak kami sadari adalah tetangga kami sedang memanaskan mobilnya. Ketika kami sadar, kami langsung terbahak geli.

Saat weekend rumah biasanya rame kedatangan anak-anak tetangga. Di rumah kami memang ada sekardus mainan dan beberapa buku bacaan. Kalau anak-anak itu sudah maen, rumah tak ubahnya kapal pecah. Yah, 11-12 lah sama tempat penitipan anak-anak. Tinggal nagih tarifnya saja pas orang tua mereka datang hehehe..

Suatu sore seorang anak laki-laki berusia 3,5 tahun, Juna, bertandang ke rumah bersama pamannya yang masih duduk di bangku SMP. Ayah yang memang sayang anak-anak langsung mengajaknya bermain bola sepak. Ia keasyikan maen hingga hari menjelang senja. Sang paman yang mengajaknya pulang kewalahan karena Juna tak mau pulang. Ia akhirnya mengadu pada kedua orang tua keponakannya. Mereka pun menjemput Juna menggunakan sepeda motor.
"Ayo, Papa-Mama mau pergi. Ikut ya?"
"Nggak!" jawabnya tegas tanpa menoleh pada orang tuanya. Ia masih asyik memainkan si bundar plastik berwarna kuning.
"Juna pulang dulu ya, besok maen lagi," Ayah ikutan membujuk.
"Ditinggal lho ya.." kata Papa Juna.
"Hem"
"Ikut yuk, nanti maen disana," bujuk Mama Juna lagi.
"Iya, tapi sama om," ujar Juna seraya menggandeng tangan Ayah.
Juna akhirnya terpaksa ikut kedua orang tuanya sambil menangis meraung.
Duh, ayah pake pelet apa sih sampe gak cuma bunda aja tapi anak kecil juga nempel hihihi..
Sampai saat ini Juna nggak pernah lagi diajak maen ke rumah. Mungkin takut susah diajak pulang.

Di sore yang lain, seorang anak perempuan umur 3 tahun, Rara, mengajak teman-temannya maen ke rumah.
"Bu guyu..." sapanya saat masuk rumah diikuti kedua temannya.
Mereka bermain bersama hingga terjadilah adu mulut dan rebutan mainan. Rara terlihat santai saja merebut mainan yang sedang dimainkan temannya. Ia tak takut meski anak itu usianya jauh diatasnya. Kepada anak yang lebih kecil darinya, ia malah memukul kalau sedang tidak suka. Sampai bunda yang sedang mengerjakan sesuatu di belakang harus turun tangan untuk memisahkan mereka. Untungnya teman-teman Rara pengertian dan selalu mengalah menyerahkan mainannya ke Rara.
Sampai tibalah waktu pulang...
Semua temannya sudah beranjak ke rumahnya masing-masing. Tinggallah Rara yang masih asyik memainkan mainan yang bisa terbang jika pelatuknya ditarik ke atas. Ibunya pun datang untuk menjemputnya pulang. Ayah dan ibunya akan pergi dan mengajak Rara turut serta. Namun kejadian yang sama terulang.
"Ayo ikut!"
"Gak mau. Mau maen sama bu guyu.."
Ibunya yang tak ingin buang waktu langsung menggendongnya naik ke atas sepada motor. Rara menangis tak terima diajak pergi dari rumah.
Duh..duh..duh.. Kok anak-anak kecil sampai segitunya nempel sama kami.

Suatu malam seorang anak perempuan usia 2 tahun, Nisa, mengikuti kakaknya yang saat itu datang ke rumah kami untuk belajar dan mengaji. Sementara kakaknya bergelut mengerjakan latihan soal, sang adik tengah masyuk mencari mainan.
"Ka.. (maksudnya buka)," ujarnya seraya menyodorkan kotak mainan ular tangga kepada bunda. Setelah mendapat apa yang diinginkan, gadis kecil itu pun membongkar isinya ke atas lantai.
Bunda yang sedang menunggui kakaknya selesai mengerjakan kini iseng menggoda Nisa. Bunda menyanyikan lagu anak-anak berbahasa inggris sambil bertepuk tangan.
Senyum mengembang di bibir Nisa. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Anak itu memang suka sekali mendengarkan lagu.
Di pagi yang cerah saat hari libur, anak-anak SD tengah berkumpul untuk menonton film di rumah. Nisa pun membuntuti kakaknya. Saat salah seorang anak memutar MP3 lagu dangdut dari handphone-nya, Nisa langsung menggoyang-goyangkan badannya lucu. Kami semua spontan tertawa dibuatnya.
Kembali di malam saat kakak Nisa belajar di rumah. Nisa terkadang mencoret-coret papan tulis dengan spidol atau "menggambar" dengan spidol warna-warni di kertas yang disediakan bunda. Ayah biasanya ikut menggambar dan menceritakan gambar itu. Tapi yang lebih Nisa senangi adalah memukulkan spidol-spidol itu ke bangku untuk membentuk irama tertentu. Kalau sudah begitu, kepalanya kembali bergoyang hihihi.
Selesai belajar, kakak Nisa biasanya mengaji. Ketika si kakak selesai mengaji, tiba-tiba Nisa membuka Al-Qur'an dan bergumam, "baa..aaa..." Masya allah.. Ia ikutan mengaji. Duh Nisa, "why are you so cute?" ujar bunda seraya menciuminya setiap kali balita itu melakukan sesuatu yang menggemaskan.
Waktu pulang pun tiba. Nisa biasa berpamitan sebelum pulang. Saat kami semua sibuk dengan urusan kami masing-masing, Nisa terus mengucapkan "Daaa...". Ia baru pulang ketika ada yang menghiraukannya. Sopan banget kamu, nak.

Di lain hari, seorang balita bernama Zahra sedang asyik "belajar" di rumah kami. Ia sibuk mengeluarkan seluruh mainan dari kardus. Mainan-mainan itu diamatinya satu per satu bak profesor yang sedang bereksperimen. Hihihi... Saat ia menemukan sebuah handphone mainan, Zahra langsung meletakkannya di telinga dan berkata, "halo.." Wajah imutnya membuat bunda tak tahan untuk menggodanya.
"Kring..kring.. Assalamu'alaikum.. Halo.. Zahra ada?"
"halo.." ujar Zahra lagi. Ia memang masih belajar berbicara. Raut mukanya tampak serius mendengarkan obrolan di telepon. Duh nak, wajahmu mengalihkan duniaku.
Setelah bosan menelepon, balita itu memasukkan kepalanya ke dalam rak buku bagian bawah. Ia lantas mengobrak-abrik buku bacaan yang tersusun rapi. Buku-buku yang terjangkau tangannya pun menjadi korban. Kedua kakaknya yang masih usia SD mengomel. Mereka mengeluhkan ulah adiknya yang tak bisa diam. Mau tak mau mereka yang akan membereskan mainan itu ke tempatnya nanti.
Balita aktif ini memang harus terus diawasi. Saat bunda lengah sedikit saja bangku-bangku yang tertata di teras sudah berjatuhan. Untungnya bangku-bangku itu tak jatuh menimpa Zahra. Namun karena kaget, ia pun menangis.
Bunda bergegas mendekap Zahra, mengelus-elusnya dan bersholawat. Ya, spontan saja bunda menyenandungkan sholawat. Zahra tampak agak tenang. Bunda lantas membacakan beberapa ayat Al-Qur'an. Subhanallah.. Balita itu langsung diam. Tangisnya reda. Setelah itu seolah tak terjadi apa-apa, Zahra beranjak ke pelataran rumah. Bunda mengekor. Takut Zahra kenapa-napa. Tapi anak itu tak bergeming di tempatnya. Ia menunjuk-nunjuk kucing yang lewat. Setelah sekitar satu menit terpaku mengamati kucing, Zahra pun pulang ke rumah dengan langkah kaki cepat. Duh, memang super aktif dan ngegemesin balita yang satu ini.
Sore itu ibukota dipadati kendaraan yang berdesakan sepulang kerja. Tiba-tiba dari kejauhan nampak kabut putih yang begitu tebal. Beberapa meter di depan sana sepertinya hujan turun deras. Banyak pengendara roda dua yang mulai menepi dan mengenakan mantel. Namun, ayah masih berjalan merambat dan mengamati keadaan. Ia sibuk memperhatikan kabut tebal di depan sana. Tanpa mengenakan mantel, laki-laki ini terus melajukan kendaraannya pelan. Ia perhatikan banyak pengendara dari arah berlawanan yang juga memakai jas hujan. Mungkin mereka mengira ibukota sedang diguyur hujan sebab banyak yang memakai mantel dari arah ibukota. Akan tetapi yang terjadi di depan sana membuatnya terpingkal. Kabut tebal yang nampak ternyata bukanlah hujan lebat melainkan asap sisa pembakaran di lahan yang luas.
Hatinya ingin nyeletuk pada pengendara di sebelahnya "Habis hujan dimana, Pak?" tapi ia menahan diri dan hanya tertawa dalam hati "Hahaha... nggak hujan kok pada pake jas hujan."
Kelas sudah berakhir namun seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun masih tak beranjak dari kursinya. Wajahnya pasi. Ia memegangi kakinya sambil berteriak, "Takut... Aku nggak mau diamputasi." Tangis pilu bergema di bibirnya. Saya yang baru masuk kelas bertanya apa yang terjadi padanya.

"Kakiku sakiiit," rengek gadis kecil itu. "Huhuhu... Aku nggak mau diamputasi." Ia masih terus menangis.

Gurunya yang baru saja keluar kelas kembali bersama laki-laki penjaga gedung. Pria itu mencoba menggendong anak perempuan tadi keluar kelas. Ia menolak keras dan tetap berteriak kalau ia takut dan tak mau kakinya diamputasi.

Ibunya yang menunggu di luar kelas tak sabar dan segera masuk kelas lalu mendorong kursi anaknya.

Sesampainya di luar kelas, ia menarik anaknya untuk berdiri. Tangis gadis kecil itu langsung terhenti seketika. Ia terlihat kebingungan.

Ealah.. Lha wong cuma kesemutan aja kok heboh banget. Kayake kebanyakan nonton sinetron nih anak sampe parno kakinya diamputasi hihihi.


Ketika hari Senin tiba, maka akan terdengar suara-suara dalam bahasa arab yang lebih sering dicampur dengan bahasa ibu. Kebanyakan yang tertangkap telinga adalah “ma makna...?” (apa artinya...?”)  yang dilanjutkan dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia. 
                “Kenapa lebih sering menggunakan ‘ma makna’ saja?” tanya saya. Anak-anak kan sepekan tiga kali ada pelajaran bahasa arab, jadi saya rasa mufrodat (kosakata) yang mereka hafal sudah lumayan. Tapi yang terdengar pada hari Senin, Rabu dan Kamis saat hari bahasa arab didominasi oleh kata-kata itu.
                “Iya Bu, kalau mengatakan ‘ma makna’ boleh pakai bahasa Indonesia,” jawab salah seorang diantara mereka yang bertubuh kurus kecil.
               Beberapa diantara mereka melakukan hal tersebut sebagai trik agar tidak terkena konsekuensi. Mereka takut terkena konsekuensi

W-E-L-C-O-M-E...


















Please read this...
On Friday, 18th April 2014, Imela, Melia, Emila, Lamie and Amile went to Madura. They passed the island using boat. In Madura, they visited Trunojoyo University. After that, they went to the town square to enjoy pisang ijo and meatball. Finished enjoying the island, they went back by passing Suramadu bridge.

Pass Madura via sea

Go back via Suramadu bridge

They continued their journey to Surabaya. In this city, five of them visited House of Sampoerna after lost for one hour! 

Owners' cars collection











In the first room, they saw the imitation of owner's stall, bikes and private stuffs such as kebaya household utensils.
"Apa itu tahta?" Kalimat itu yang didengungkan Heo Yeon Woo, putri mahkota, pada sang raja saat mereka menghadapi masalah pelik. Kalimat tersebut mencerminkan keresahan sang gadis yang sudah terlalu banyak menanggung derita dan kesedihan akibat perebutan kekuasaan yang mau tak mau melibatkan dirinya.


Serial korea "the Moon that Embraces the Sun" menceritakan mengenai kehidupan kerajaan Korea dimana keluarga kerajaan khususnya raja sebagai otoriter. Perintah raja wajib dipatuhi, jika tidak itu artinya pengkhianat. Keluarga kerajaan yang seolah hidup mewah dan bahagia didalam istana megah, ternyata tidaklah seperti kelihatannya. Apa yang ada di dalam istana semuanya tak lebih dari permainan politik. 

Tahta, yang tak jauh dari kata harta, mereka perebutkan. Pemilihan putri mahkota pun tak lepas dari unsur politik. Lihat saja bagaimana perdana menteri yang gila kekuasaan menghalalkan berbagai cara untuk menjadikan putri semata wayangnya sebagai putri mahkota baru atau calon ratu. Termasuk

Sore itu, adek laki-laki saya lagi galau. Ceritanya dia dapet tugas bikin majalah dari dosennya. Meski majalahnya cuma dua lembar, tapi cukup bikin dia mumet. Yang bikin galau adalah karena dia belum bisa nge-lay out.nya plus belum nulis artikelnya. Artikel yang isinya narsis. Suruh nulis tentang dirinya sendiri. Hoho, pasti nggak laku kalo majalahnya dijual. Peace, dek! ^^v

Jadilah saya mengeluarkan majalah-majalah saya dari rak paling atas dan mulai mencari-cari majalah bergambar model laki-laki. Mulai dari gambar Afgan, Derby Romeo, Kim Joon sampai Lee Min Ho. Langkah pertama, adek saya minta difotoin buat tugas majalahnya. Oke, akhirnya nyari contoh pose yang pas buat difoto. Saya suruh berdiri di pojokan sambil pasang tampang cool kayak posenya Min Ho, dia langsung action. Saya minta gaya setengah badan niruin Kim Joon dia mau. Sampai saya suruh jongkok pun iya-iya ajah. Hehehe, saya cekikian melihatnya. Dia bergeming. Tidak menggubris tertawaan saya. Terpaksa tak berkomentar dan mau melakukan apa yang saya instruksikan demi tugasnya. Padahal biasanya dia

Kerumunan wanita yang rata-rata sudah berumur lebih dari setengah abad memenuhi pelataran desa. Beberapa dari mereka bahkan sudah beranak cucu. Warna hijau mendominasi kerumunan tersebut. Mereka duduk di atas terpal oranye di bawah rimbun pepohonan. Tangan kanan ibu-ibu itu sibuk mengipas-kipas. Entah dengan kipas kain segitiga bergambar, kipas bentuk lingkaran yang biasa digunakan untuk mengipasi sate ataupun kardus bekas makanan ringan yang sudah ditekuk-tekuk. Maklum saja, sinar mentari bersinar cukup terik pagi itu. Sementara para pedagang terlihat sudah siap menjajakan dagangannya. Mulai dari bakso, lontong kikil, dan yang lainnya.
Para ibu yang datang pagi itu sungguh terlihat ceria. Setelah membaca yasin, mereka mendapat jatah istirahat kira-kira 45 menit untuk kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama. Waktu yang cukup lama untuk digunakan membeli beragam makanan yang tersedia. Mereka sibuk makan lantas ngobrol banyak hal. Menggoda cucu perempuan kawannya. Lantas sesekali tertawa.
Melihat ibu-ibu sepuh yang tengah beristirahat, pedagang pun bergantian menghampiri. Ada pedagang jajanan semacam kripik, jagung, jipang, dll lalu pedagang ketan atau nasi goreng.


Disusul dengan pedagang kerudung, keset, ulegan (alat penggiling pasangan cobek) sampai pedagang yang menjual kapur barus, amplop, tutup panci dan kawan-kawannya. Ah, heboh benar! Aku terpaku mengamati para wanita sepuh itu. Beberapa sibuk mengunyah kikil. Yang lainnya sibuk membeli ketan. Menyulurkannya dari satu orang ke orang lain. Sementara kerumunan yang lain asyik memilih ulegan. Menekannya di atas tanah. Sisanya malah membaringkan tubuhnya sembari ngobrol.
Hmm, saya yang datang menemani ibu kini paham cerita beliau tentang penyegaran pikiran di pengajian.
Siang itu, kami bertujuh berkumpul di ruang bimbingan konseling, basecamp baru para wanita. Maklum saja, kantor atas yang biasa digunakan untuk kantor para guru perempuan telah disulap menjadi laboratorium komputer. Sementara kantor bawah telah berubah fungsi menjadi ruang rapat. Jadilah kami lebih suka berkumpul di ruangan yang sehari-harinya digunakan untuk konseling para siswa.
Ruangan tersebut pun didominasi oleh para sanguinis. Bisa dibayangkan betapa ramainya suasana didalam ruangan tersebut. Sementara para siswa sedang menekuri ujian tengah semester mereka, kami mengisi waktu dengan membicarakan masa kanak-kanak kami. Mengenang permainan masa kecil. Ah, betapa menyenangkannya masa itu. Ternyata permainan yang dimainkan oleh anak-anak di usia kami hampir sama. Entah itu yang berasal dari Nganjuk, Madiun, Mojokerto, Jombang, Kediri ataupun daerah lainnya.
Permainan masa kecil yang melibatkan banyak orang jenisnya tak terhitung. Mulai dari betengan, kotak pos, bekelan, dakonan, lompat tali sampai permainan ramalan konyol tentang berapa jumlah anak kami nantinya. Hihi, bagaimana bisa anak kecil memainkan permainan seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya siapa yang pertama kali membuat permainan-permainan semacam itu. Dan bagaimana bisa di berbagai tempat di Indonesia ini memainkan permainan yang sama. Jadilah seperti tercipta permainan universal.




Kami pun bercerita secara bergantian dan mengingat jenis permainan yang dulu sering kami mainkan bersama kawan-kawan. Lebih sering tertawa geli. 
            As usual, that morning, I was standing in front of the class, told a story which would motivate the students. In the middle of the story, I saw some girls were standing in front of the class. I ignored them. Maybe they just wanted to meet one of my students. So, I continued my story till the end. Suddenly, when I finished it, around thirty students of the eighth grade sang "Barakallah my teacher, barakallah my teacher, barakallah my teacher... Barakallah my teacher."

Such a nice surprise. They still remembered my birthday well. Last year, they also gathered around me just to say happy birthday. Now, they even came to the class merely to greet a happy birthday for me, although I didn't teach them anymore. I felt really grateful because of their care and sincerity.
Finally, I went to Japan... yeay!
You don't believe me? Hehe...

Well, my friends and I merely went to a place that was full of Japanese culture, named Japanese World. It took place in Unair on 8-9 February 2014 from morning 'till afternoon. It was all 'bout Japan. You would be greeted with a red Japanese gate complete with its post box and lampion.



The yard are used to sell clothes, accessories, books and so forth. You could also guess your future by playing tarot card., if you believe it. For me, it was just a game.
I was looking for teaching materials about notice and caution. And I found some interesting signs. Some signs are funny. Here they are...
                                                     
Don’t feed the crocodile using your daughter. The sign may also means, “never let your girl to have a relationship with a crocodile (player)”

Then, BE CAREFUL when you see this sign! Danger threats you, LOL :D

Let’s say, you already stood up under the tree for 3 hours. How much birds’ poop have you gotten?


Tanggal 09 Juni 2013 anak-anak kelas 7 dan 8 di sekolahku mengadakan kegiatan outbond karakter sekaligus rihlah bersama. Outbond yang diadakan kali ini bertujuan untuk membentuk karakter kepemimpinan dan kerjasama siswa. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai sarana rihlah atau jalan-jalan untuk melepas penat selama satu semester. Dan kebetulan aku yang kebagian tugas untuk mendampingi anak-anak bersama dua orang guru lain. Jadilah kami berangkat ke tempat tujuan, yakni Bakti Alam, yang berlokasi di Pandaan. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan tiga buah mini bus dalam waktu dua jam. Selama perjalanan, anak-anak terlelap dalam tidur panjangnya, hehehe...
Sesampainya disana, kami melewati sebuah jembatan gantung yang di kanan-kirinya terhampar berbagai macam tumbuhan hijau liar nan alami.
Tak lama menunggu, kereta kelinci pun datang.
Pemberhentian pertama adalah tempat pemerahan susu sapi. Di tempat ini, kami mencoba memerah susu sapi secara bergantian. Bagiku pemerahan ini tidaklah mudah. Aku berkesempatan mencobanya dan hanya mendapatkan beberapa tetes susu sapi segar.
“Jangan ditekan, Mbak. Dipijit dari atas... Pake perasaan merahnya,” begitu kata Mas penjaganya.
“Ya gimana Mas, suruh pake perasaan. Wong aku memang agak-agak takut memerahnya,” batinku.
Lanjut.....!!! Setelah heboh memerah susu sapi, beberapa orang anak-anak malah sibuk bereksyen di depan kandang sapi. Mereka asyik jepret sana-sini sambil menutup hidung atau tak bernafas, hihi... Untuk beberapa anak yang memang mempunyai keingintahuan yang luar biasa, khususnya anak-anak kelas 7, mereka malah sibuk mengerumuni seorang pria penjaganya. Ia bercerita kalau ada seekor sapi yang baru melahirkan anak.
“Ini anak sapi yang baru dilahirkan sejam yang lalu.” Ia memulai penjelasan.
“Ari-ari anak sapi ini baru bisa diambil nanti sore atau besok pagi. Besarnya segumpalan tangan.“
“Berapa berat anak sapinya, Pak?” seorang anak bertanya.
“Anaknya 30 kg. Kalo induknya sekitar 600 kilo.”
“Wuiih...” komentar anak-anak kembali bergemuruh di udara.
“Ini induk dari sapi yang baru dilahirkan itu. Biasanya susunya kita perah dapet 15 liter. Yang 3 liter untuk anaknya, yang 12 liter kita olah.”
“Gimana minumnya, bisa langsung dari induknya?” tanya anak-anak lagi.
“Ya kita minumkan.”
“Terus gitu gimana melahirkannya, Pak?” celetuk seorang anak.
“Ini mengandungnya 9 bulan sama seperti ibu-ibu biasanya. Kalo melahirkan duduk kayak gini. Yang ini juga lagi hamil,” tunjuknya pada seekor sapi yang lebih besar yang tengah duduk. “Nanti anaknya keluar kaki dan kepalanya. Terus air ketubannya pecah. Jadi harus kita tungguin.”
“Gak tidur lak’an, Bapak?”
“Ya ditunggunya pas udah ada tanda-tanda kalo mau melahirkan seperti gelisah, duduk-berdiri, gak mau makan, ekornya dikibas-kibas.”
“Aaaah.....” Anak-anak kompak berteriak akibat terciprat kibasan ekor si sapi jumbo. Mereka pun mundur beberapa langkah.
“Sapi-sapi yang ada disini semuanya betina, tidak ada pejantannya. Jadi kalo pejantan nggak dikembangkan disini, cuma dijadikan sapi potong.”
“Lha kalo nggak ada pejantannya gimana?”
“Ya pake saya.”
Anak-anak langsung heboh mendapat jawaban seperti itu, meski aku paham maksudnya. Melihat raut penuh tanda tanya di wajah anak-anak Bapaknya langsung melanjutkan, “Iya, pake saya. Saya yang ngawinkan. Ngasih inseminasi buatan. Disuntikkan gitu ke betinanya.” Setelah beberapa lama, ia kembali menjelaskan. “Kalo syarat kawinnya, umurnya 1,5 tahun, berat minimal 250 kilo dan sudah mens.”
“Lho, mens juga. Bla, bla, bla...” Anak-anak langsung ribut menerima informasi yang baru mereka ketahui ini.
“Mens sapinya ini biasanya intervalnya 24 hari, jadi hampir sama seperti kalian kalo mens. Sapi ini kalo umur 4 tahun sudah punya anak dan jadi induk.”
“Wah, kalo kita umur 4 tahun masih kecil...” celetuk mereka lagi.
“Nah, yang disebelah sana itu,” tunjuk Bapak penjaga pada sapi yang bercorak cokelat. “Itu sapi cokelat yang dikawinkan dengan sapi potong. Yang ini...” Kali ini ia menunjuk seekor sapi putih tanpa tanduk. “Ini sapi bule.”
“Wuiih... bule... kalah kita sama sapi...” Anak-anak kembali heboh.
“Itu dari New Zealand. Sebenernya sapi itu aslinya dari Belanda, cuma dikembangkan di New Zealand. Kalo di Belanda banyak sapinya. Perbandingannya sapinya seribu, orangnya cuma dua. Tapi bedanya sama sapi lokal cuma dari tanduknya. Kalo sapi lokal tanpa tanduk, kalo yang dari luar nggak ada tanduknya. Tapi ini bisa di-horning, kok.”
Horning?
“Iya, dihilangkan tanduknya. Jadi dari pas masih kecil udah dihilangin tanduknya pake alat. Nanti besarnya udah nggak bertanduk.”
Entah karena keingintahuan yang meluap-luap atau malah karena kehabisan pertanyaan, seorang anak bertanya, “Ini kok kotor Pak, kandangnya? Nggak dibersihkan ya?”
“Barusan saya bersihkan ini. Lihat sudah bersih semua. Kalo yang ini kan baru. Kotorannya gini biasanya bisa dijadikan biogas.”
“Biogas?”
“Iya. Mau lihat?” Kami pun diajak ke belakang kandang. Disana terdapat sebuah benda dari semen yang berbentuk seperti sumur kecil.
“Disini biogasnya diolah. Perbandingan air dan kotorannya 1:1. Itu diaduk rata, terus kalo sudah kayak jus, penutup yang disebelahnya itu dibuka. Selanjutnya ini masuk ke kubah besar disitu. Didalam sini ada semacam kubah seperti kubah masjid gitu.”
“Selanjutnya bakteri anaerob mengeluarkan gas metan lalu dialirkan ke pipa gas yang disana untuk memasak,” jelasnya lebih lanjut.
“Lalu ini dialirkan lagi 100 meter untuk pemanas air hangat. Disebelah atas sana itu ada pemandian air hangat yang sumber pemanasnya dari biogas ini.”
“Waaaah.....” Anak-anak tampak kagum.
“Kalo untuk penduduk bisa dibuat penerangan meski lampu padam. Bisa jadi generator.”
Setelah itu, kami diajak menikmati susu segar yang diolah dari peternakan yang sudah kami kunjungi.
Lalu kereta kelinci datang beberapa saat setelah kami menikmati segelas susu segar. Kami pun dipandu untuk berkeliling perkebunan yang ada disini. Beberapa anak kelas 7 langsung menyerbu. Aku pun duduk di depan menemani mereka. Lantas seorang laki-laki muda berusia sekitar 20-an berdiri dibelakang pengemudi sembari membawa mikrofon.
“Selamat datang di wisata Bakti Alam. Nama saya X... (aku lupa namanya), yang akan memandu kalian. Disebelah kiri kalian ini yang dinamakan melon golden langkawi, asalnya dari Thailand. Ciri-cirinya warnanya kuning keemasan kemudian bijinya kecil, tapi dari segi kandungan rasa melon ini lebih renyah. Nah ini khusus buat kalian semuanya. Nanti kita bisa mencobanya. Ada pemberhentiannya nanti.” Sang pemandu terus nyerocos sepanjang perjalanan.
Kami melewati sebuah tempat pemberdayaan bibit-bibit buah. “Yang sebelah kanan ini melon golden langkawi. Ini masih dalam bentuk bibit. Yang ini sekali panen, umurnya 2 bulan 10 hari. Ok, baik sebentar lagi kita akan berhenti sejenak. Nanti kalian semua bisa menikmati melon golden langkawi ini.”
“Ok, baik tunggu sebentar.” Pemandu itu pun turun ketika kami melewati pos dengan tenda hijau kecil yang didalamnya duduk sekitar empat orang pria.
“Enak, tapi terlalu sedikit.” Komentar salah seorang anak.
“Kalo mau banyak beli sendiri,” sahutku.
“Akhirnya bisa makan golden Thailand.” Anak yang lain berbisik kepada teman yang duduk di sebelah kirinya.
“Ustadzah, melonnya renyah, Ustadzah...” komentar yang lain.
“Di sebelah kanan kalian ada lahan untuk tanaman srikaya. Namanya srikaya Australia. Bedanya dari daun buahnya.” Kereta pun berjalan beberapa meter. “Tengok juga sebelah kanan, pohon buah naga.”
“Mana buah naganya?” Anak-anak celingukan mengamati tanaman buah naga.
“Nah, di Bakti Alam ini ada tiga macam varian warna ya. Ada warna merah, putih dan warna?”
“Ungu.”
“Ungu ya merah itu. Dan kuning. Tapi yang warna kuning itu warna luarnya, dalamnya tetap putih. Yang paling manis itu yang warna putih. Lalu yang itu tempat menanam semangka. Didalamnya ada plastik dan itu dinamakan gundukan.”
Selesai berkeliling perkebunan, kami menikmati segelas jus yang disediakan di tempat welcome drink dekat tempat penjualan suvenir. Didepannya berdiri dua orang badut berkostum sapi. Para pengunjung mengerumuni keduanya untuk berfoto bersama. Setelahnya, anak-anak bersiap untuk outbond. Di lapangan outbond, anak-anak dipandu untuk bermain ular-ularan, menari sampai merayap di tengah hujan yang tiba-tiba turun dengan lebatnya.
Selebihnya ada tempat menginap, tempat penjualan buah dan es krim, taman bunga dan wahana seperti ATV. Juga salah satu sudut cantik yang bisa dijadikan tempat eksyen seperti ini.
Ok, itu semua rangkuman perjalanan kali ini. Semoga harimu menyenangkan! :)

“Are you the teacher?” pernytaan itu yang kerap terlontar dari beberapa orang yang kutemui saat aku mengantarkan anak-anak didikku untuk mengikuti sebuah perlombaan.
Pernah suatu kali, aku mengantar lima orang siswa untuk mengikuti speech contest di salah satu universitas negeri di Surabaya. Saat itu kelimanya memakai baju bebas. Dan pada saat kami sampai, kutanyakan pada seorang gadis yang memakai jas almamater dimana tempat lombanya.
“Iya, disini. Mau ikut lomba ya?” begitu katanya.
Lantas kelima muridku itu menandatangi daftar hadir peserta. Namun mereka kebingungan saat diharuskan mengisi nomor telepon. Maklum saja, sekolah tempatku mengajar adalah sekolah berasrama alias pondok, sehingga para siswanya tidak diperbolehkan membawa handphone.
“Ini gimana, Ustadzah?” tanyanya.
Dan saat itulah si mbak-mbak panitia baru sadar kalau aku gurunya. Ia memintaku untuk mengisi daftar hadir guru pendamping. Tapiii, pas aku mengisi daftar hadir itu, panitia lain yang menjaga meja registrasi malah memperingatkanku, “Lho, itu untuk gurunya.”
Aku hanya diam sementara temannya menyahut, “Iya, itu gurunya.”
Kejadian yang sama kembali terulang pada saat aku mengantar tiga orang siswi untuk mengikuti lomba debat pun kejadian yang sama terulang kembali. Saat itu aku mengantar mereka untuk berdebat di sebuah SMA negeri di Sidoarjo. Kebetulan lomba debat yang diadakan adalah open debate. Jadi para pesertanya adalah siswa-siswa SMP, SMA dan mahasiswa.
Nah, pada saat aku menunggu anak-anak yang sedang berdebat di musholla yang ada disana, seorang wanita muda bertanya padaku, “Mbak, kelas berapa?”
“Saya sudah lulus.”
“Kuliah semester berapa kalo gitu?”
“Saya gurunya.”
“Oh, bilang dong Mbak dari tadi kalo gurunya. Tak kira yang ikut lomba.”
Ya, bisa dimaklumi memang karena postur tubuh anak-anak memang lumayan besar sementara aku terlihat masih muda untuk menjadi seorang guru. Hihi...

P. S: This story is created by tangled mind. Every single thing in this story is a fiction. If there is a resemblance on the story, character or place, it’s just a coincidence. Please don’t enjoy it!

“Do it, now!” commanded it.
“Yes, prop.”
“Finish it today!”
“No matter, prop.”
“I want you to WORK OVER-HARD for the sake of me! I have so many things for you to do, so HOLIDAY and SPARE TIME is out of mind. You must realize this, that, these and those, so keep in mind that you have to PUSH yourself to do it. Have fun is a SIN. Just work, work and work!”
“Roger, prop.” *sounds like a robot*
“Good.” It smiles complacently. “My installation is successful. They are all in my control now.” It murmurs.
“So, what you have learnt?” tests it.
“My_ program_ is_ created_ to_ do_ what_ you_ command_ me_ to_, to_ think_ of_ what_ you_ believe_, and_ to_ say_ what_ you_ want_ me_ to_”
“Very good.” It looks satisfied. “No comment, no asking questions, just do it. They call me ‘RODI’, They named me ‘ROMUSHA’. No matter what it is, I am the TYRANT. So, all you have to do is doing my command. Hahahahaha!”

Moral story: Run away when you meet an unidentified frightening creature unless your brain will be eaten. It’s a zombie or the tyrant, anyway? ;p