Kulwap "Menjadi Ibu Bahagia"

Oleh: Hilmiyatil Alifah

Tips Ala-ala Emak Memilih Bahagia


Ketika bertemu dengan kata tips, pikiran saya terkadang langsung mengarah pada temuan ide yang berdasar pada pengalaman. Bisa jadi pengalaman itu yang tidak disangka karena telah berhasil menemukan solusi.


Atau terkadang melihat pada pengalaman orang lain yang mengalami kesulitan lalu terbantu oleh solusi yang bisa kita ciptakan. Misal DIY, sebenarnya tips yang diciptakan oleh krrator DIY berdasar pada pengalaman orang lain atau pribadi. Karakteristik tips yang lainnya adalah bahagia karena terbantu satu urusan. Setuju?


Demikian salam pembuka dari tulisan Tips Ala-ala Emak versi pengamatan saya. Semoga tetap setia membaca tulisan ini hingga akhir dan bisa memetik manfaat dari hasil membaca tulisan ini ya. Hehe semoga😘.


Bismillah mari kita mulai ya. Tips yanh ingin saya bagikan sebenarnya ada beberapa dan temanya tentang menjadi ibu bahagia. Huhuhu. Beraaaat bahasannya. Tapi kita terkadang banyak melupakan satu hal yang sangat penting dalam hidup kita, yaitu BAHAGIA.


Tugas ibu dimulai dari terbukanya mata hingga tertutup karena kelelahan terkadang tak kita sadari, diri kita sendiri telah melupakan hak diri untuk memilih bahagia. Betul?


Bahagia dalam hal bukan menghamburkan harta atau berfoya-foya. Tapi bahagia, bahwa jalan yang kita pilih adalah memang passion kita dengan penuh kesadaran bahwa memilih menjadi seorang ibu dan bertanggungjawab dengan semua perannya sudah Allah janjikan balasan terbaik dariNya.


Rutinitas melayani dan mengabdi di dalam rumahtangga terkadang hanya menjadi rutinitas da  tidak menghadirkan semangat untuk meraih rasa baahagia. Karena rasa bahagia haruslah dihadirkan untuk membagi perasaan dan aura positif kita dengan sekeliling kita.


Bahagia lahir pertama karena rasa syukur kepada Allah. Bayangkan jika rasa bahagia tak pernah hadir di dalam diri kita. Ada pertanda jiwa kita atau hati kita sedang "sakit". Bahagia dimiliki oleh orang yang dekat dengan Allah. Bahagia dimiliki oleh hamba Allah yang pandai bersyukur. Bahagia dimiliki hamba Allah yang sedang "bersabar" dan sedang dalam "syukur".


Jika kita ibu bahagia, maka seisi rumah akan benderang. Namun jika ibu beesedih maka hal yang sebaliknya terjadi di dalam rumah. Saya rasa kita setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa ibu "jantungnya rumah"


"Bahagiakan istrimu maka rumahmu kan benderang". Saya rasa kita sudah terlalu mengenal tulisan yang viral ini ya.


Baik, bagaimana menghadirkan bahagia dalam diri seorang ibu,


1. Hadirkan Syukur


Menghadirkan rasa syukur bahwa kita adalah pilihan Allah yang telah ditunjukNya menerima amanah langsunh dariNya, rahim yang Allah berikan, telah Allah hadirkan seorang anak yang kelak akan kita didik menjadi hamba Allah yang salih atau salihah.


Hadirkan rasa syukur kita, karena tak sedikit saudara kita yang berjuang untuk memperoleh keturunan. Ingatlah ketika Allah beri kemudahan, usahakan tidak mengeluhkan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Karena tak sedikit seorang ibu yang mengeluh ketika Allah tambahkan amanahNya mendidik anak-anak salih dan salihah menjadi generasi yang taat kepada Allah.


2. Kenali Peran Ibu


Mari kita bayangkan jika seorang ibu tidak memiliki tutorial menjalankan perannya? Sedangkan tugasnya di dalam rumah sungguh memiliki peran yang luar biasa terhadap pendidikan anak-anaknya. Betapa sedihnya jika kita akan menjalankan sebuah tanggungjawab tapi tidak tahu harus memulainya dari mana, bagaimana menjalankannya, siapa yang akan menjadi teladan dan apa yang akan dilakukan kita masih belum tahu?


Al Um Madrasatul Ula. Ibu Madrasah pertama anak, jika ibu tak memahami perannya, dari mana anak akan memulai belajar adab jika tak dimulai dari ibunya yang mengajarkannya. Dari mana seorang anak mengenal Allah jika ibunya yang terlebih dahuly mengenalNya. Dari mana seorang anak mencintai Nabinya jika ibunya mengenalnya dengan baik dengan seluruh ahlul bait dan para sahabatnya.


Ibu, jika kita tau arti peran seorang ibu maka sudah selayaknya kita akan menjaga diri. Keteladanan akan dicontoh oleh anak-anak kita. Ibarat sebuah cermin, jiwa anak akan terwarnai oleh perangai serta tindak tanduk seorang ibu. Jadi pencitraan untuk menyampaikan kebaikan dengan menghadirkan Rasa Diawasi oleh Allah itu sangatlah penting.


Segala perbuatan kita dalam rangka mendidik anak-anak untuk mengenal Allah dan mencintai KekasihNya serta menjadikan Alquran sebagai pedoman, sungguh ini tak main-main.


Ada masanya purna bakti kita dimintai Allah sebagai rasa tanggungjawab, anak yang Allah titipkan, diajarkan apa saja? Apakah anugerah yang Allah titipkan diajarkan menjauhi Allah atau kita tanamkan keimanan sejak mereka lahir?


3. Berkumpullah dengan Orang Salih


Ibu, bahagia hadir karena seorang sahabat yang berani mengatakan dan menasehati kesalahan yang kita lakukan.


Memilih sahabat atau komunitas yang banyak mengingat Allah dalam konteks menghadirkan bahagia adalah penting.


Sudah berapa banyak perkumpulan atau komunitas yang kita saksikan hanya untuk ajang pamer kekayaan? Persaingan tidak sehat, bahkan ajang ghibah dan gunjing tidak terelakkan.


Datangilah majelis ilmu bersama teman yang bisa saling mengingatkan. Karena kita akan dicari-cari oleh sahabat yang sama-sama satu visi mendambakan surga.


Lebih baik lagi bila persahabatan kita berdasar cinta kepada Allah. Persaingan kita dalam hal kebaikan, untuk berlomba dalam menebar kebaikan.


4. Berpartner dengan Suami


Mendidik anak atau mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah tugas yang mudah. Mengelola rumah sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya sungguh teramat berat jika kita tidak melibatkan pemimpin rumahtangga.


Sekadar berbagi tugas yang ringan ini akan mengundang rasa bahagia, karena sesungguhnya wanita hanya ingin berdampingan dengan pasangannya dan akan sangat bahagia bila pekerjaannya ikut ditanggung oleh suami. Huhu, dunia serasa milik dia sendiri😁. Yang tersenyum saya yakin di dalam hatinya merindukan hal yang seperti ini.


Melibatkan suami dalam mengurus rumahtangga tidak menjadikan harga diri sebagai pimpinan rumahtangga menjadi turun, justru inilah keteladanan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah yang rela membantu para istrinya.


Keluh kesah seorang wanita dalam menjalankan tugas kesehariannya akan menjadi ringan jika ada pundak suami yang dijadikan sandaran untuk menumpahkan segala rasa yang telah dilalui dalam sagu hari.


Jadi jangan lupa untuk berpartner dengan suami dan pilah menceritakan sahabat-sahabat kita dalam curhat kepada suami. Saringlah apa-apa yang akan kita curhatkan kepada suami, agar tidak terjadi hal yang tidak seharusnya kita lakukan.


5. Menyediakan Waktu untuk Me Time


Berhenti sejenak dari rutinitas dan melakukan hal-hal yang kita sukai, sejauh pandangan yang berdasar pada syariat dan tidak melanggar perintah Allah dan Rasul, tidak menjadi masalah.


Melakukan hal yang mengundang bahagia bisa dimulai dari passion yang kita pilih mampu mengundang bahagia dan memang yang kita pilih untuk disukai.


Terkait waktu lama atau sebentarnya me time kita dapat mengaturnya dengan jadwal keseharian. Dan harus dengan persetujuan suami. Terbayang kan bun, me time apa yang akan kita lakukan?


6. Menambah Kedekatan Kita kepada Allah


Seorang Nabi dan juga seorang raja, menambah rasa syukurnya dengan sangat berdisipilin dalam menambah syukur. Nabi yang maksum dan telah dijamin masuk surgaNya Allah saja masih menambah ketaatannya dalam bentuk ibadah dan perbuatan baiknya.


Lalu bagaimana dengan kita masusia akhir zaman?


Tak sedikit yang lalai dengan kenikmatan dunia. Dan ujian kelapangan rizki ini akan sangat memabukkan karena ketika diri telah merasa harta yang kita miliki telah menjamin hidup kita, maka di sinilah kehancuran itu akan di mulai.


Menjauhnya kita dari Dzat Pemberi Rizki Yang Maha Kaya hanya karena harta yang Allah titipkan, sungguh sangat disayangkan. Naudzubillah.


Ujian kelapangan rizki terkadang mampu melenakan kita untuk mulai malas bangun di sepertiga malam. Malas untuk menengadahkan tangan serta menangis bagaimana menjalani hari-hari di alam akhirat.


Kedekatan kita di saat kelapangan rizki dan rumahtangga yang tentram dan bahagia, jika tidak ditambah syukur dengan mendekatkan diri kepada Allah, rasanya sungguh kita termasuk ke dalam golongan hamba yang tidak tahu cara bersyukur.


Tegakkan salat malam, makmurkan majelis ilmu di dalam rumahtangga kita, gempur anak-anak untuk menghujamkan keimanan terhadap Allah.


7. Muliakan Orangtua Kita


Untuk menulis kelanjutan dari poin ke tujuh ini sungguh amatlah berat, karena saya sendiri sedang berusaha untuk menjadi anak yang baik, belajar bakti kepada orangtua.


Keyakinan saya dengan memuliakan orangtua tentu semua nya berawal dari doa-doa mereka. Kasih sayang mereka dari sejak kita kecil, masyaAllah tidak akan bisa kita membalasnya.


Kasih orangtua kan terus menerangi jalan kita. Tangan-tangannya yang kini keriput, tentu Allah sangat mengenalinya, tangan-tangan itulah yang tiap malam menengadah memohon kesuksesan kita du dunia maupun di akhirat.


Airmatanya dan kasih sayangnya tak lekang oleh masa. Mereka lah orang pertama yang akan membela kita. Mereka orang pertama yang akan bangga akan prestasi kita dan mereka pula orang yang paling lama mendoakan kita. Terkadang mereka menahan keinginan-keingainanya agar kita bisa bahagia.


Ya, masa kecil kita adalah masa paling bahagia karena mereka banyak mengalah dengan kita. Ketika mereka renta, tak pernah sekalipun mereka mengungkit kebaikannya. Sungguh muliakanlah mereka. Orangtua kita.


Jika sampai hari ini kita belum bisa memberikan materi dan kesenangan di hari tuanya. Paling tidak kita memilih menjadi anak salih atau salihah yang akan menjadi tabungan jariyahnya ketika mereka Allah panggil.


Pada hari ini, tak sedikit yang tertipu memilih arti bahagia, bahkan tak jarang melupakan bagaimana memilih bahagia.


Sebagian yang lainnya mengartikan bahagia dengan berfokus pada seberapa banyak kekayaan yang mampu kita simpan. Sebagian yang lainnya menilai bahagia dari kemewahan dan kemampuan seseorang memiliki benda-benda duniawi.


Padahal bahagia sangat sederhana,  bermula dari jiwa dan hati yang bersih, ikhlas mdengantakdir yang Allah tentukan ketetapannya. Kesedian diri untuk bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Bukan mengharap kepada apa-apa yang belum kita miliki.


Allah adalah Dzat yang Maha Adil terhadap setiap hambaNya. Allah berikan rasa bahagia pada keluarga yang sederhana, dengan menghadirkan pandangan yang sejuk lagi menenangkan terhadap anak dan istrinya sedangkan mereka untuk makan esok hari masih harus berjuang. Allah hadirkan senyum di rumah-rumah dengan cahaya lilin yang mengajarkan huruf-huruf hijaiyah dengan bacaan Alquran yang terbata-bata.


Allah hadirkan bahagia pada pasangan yang mendengar keputusan dokter bahwa didalam rahim istrinya telah terdapt janin yang telah ditunggu-tunggu.


Allah berikan pemimpin laki-laki yang adil lagi memihak kepada rakyat dan takut pada Allah. Sungguh inilah rasa bahagia hamba Allah jika di negaranya telah Allah pilihkan untuk memimpij negeri yang menyeru untuk lebih taat kepadaNya.


Allah berikan kebahagiaan kepada seorang suami yang mampu mendidik istrinya untuk taat dengan memulai menghijabi dirinya dengan pakaian yang menutup aurat.


Allah berikan kebahagiaan kepada siapa saja yang di dalam jiwanya menghadirkan Allah serta melafaldzkan kalimat hamdalah.


Bahagia tak dapat dibeli oleh hartawan, milyuner sekalipun. Toko bahagia di dunia pun belum dapat memproduksi perasaan bahagia, belum satu pun toko di dunia yang menawarkan menjual kebahagiaan yang hakiki.


Dan sejatinya bahagia yang hakiki ketika Allah memberikan ridhaNya terhadap amalan yang kita lakukan.





Sesi diskusi:
Saya bahagia dan selamat untuk bunda yang menuliskan poin bahagia dan ketidak bahagiaan. Itu suatu tanda bahwa Anda cukup mengenali diri Anda dan bisa mengalirkan rasa dengan sangat baik

Apakah Anda menikah dengan orang hebat?

Suami Anda itu orang hebat apa bukan? Sehingga Anda memilihnya menjadi pasangan hidup?

Apakah Anda melahirkan anak-anak yang hebat? Yakin mereka anak hebat? Yakin tidak menginginkan anak yang lebih hebat dari ananda?
Dan dikaruniai anak2 yg menjadi penyejuk mata
Jika kedua hal di atas tidak dirasakan di dalam keluarga kita. Sungguh pasti ada sesuatu yang tidak kita sadari telah merenggut kebahagiaan itu
Ada berapa banyak keluarga di luar sana yang tertatih.

Istri tidak lagi mentaati suami.

Suami tidak lagi mempedulikan istri dan anak-anaknya

Anak jadi korban. Mereka kehilangan sosok teladan. Ayah dan ibunya yg sibuk memikirkan diri sendiri.

Naudzubillah
Bagaimana bahagia versi orang beriman.
Apakah sekadar keluarga yang utuh? Tidak pernah ada masalah?
Bagaimana orang beriman memandang kebahagiaan?
Orang beriman memandang kebahagiaan adalah dengan menambah syukurnya. Menambahkan ketaatannya kepada Allah.

Jadi jelas tujuan orang beriman ya. Mereka akan menuju Allah untuk meraih ridhonya.

Bahagia versi orang beriman bukan naik turun kendaraan bermewah atau plesir ke berbagai penjuru dunia.

Ketentraman hati adalah sumber kebahagiaan itu sendiri
Apapun status kita hari ini. Kita layak memilih bahagia.

Karena kita adalah umatnya Rasulullah yang sangat banyak sekali Allah berikan kemudahan dalam beramal.

Yang Allah akan masukkan surga terlebih dahulu daripada umat lainnya

Yang Allah berikan kesempatan untuk meraih malam keberkahan. Walau usia kita sebentar jika di bandingkan dg umat terdahulu. Tapi Allah siapkan satu malam saja untuk kita meraihnya dan memperoleh keutamaan dari 1000 bulan

Allah mudahkan kita ketika di padang Mahsyar dengan memberikan syafaatNya kepada Nabi memilih umatnya yg mengikuti sunnahnya
Kebahagiaan bagi orang beriman adalah mendapati dirinya dalam nikmat iman dan Islam
Dua nikmat ini yang harus banyak kita syukuri. Hanya karena dua nikmat ini kita berada di barisan orang salih
Jika masalah ekonomi menghimpit. Ada dua nikmat yang membahagiakan kita yaitu iman dan Islam. Kita adalah milik Allah jadi sejatinya meminta kepada Allah Yang Maha Kaya

Jika belum Allah berikan keturunan atau suami? Kita milik Allah. Bisa jadi penundaan doa kita akan berbuah kepada hasil yang Allah inginkan. Keberkahan

Jika dicoba dengan ujian kesehatan. Boleh jadi ini adalah tujuan Allah melarang kita untuk banyak berbuat maksiat jika diberikan nikmat sehat.

Bahagia itu mudah bila kita mudah berhuznudzon kepada Allah.

Mengakui semua yang telah diberikan adalah yang terbaik bagi kita hambaNya
trimakasih buat smua pencerhan na bunda,

Sesi tanya jawab:
bunda solusi buat bapak2 yg suka game online, sbagai istri gmna cara kita nasehati na,???

Jawaban: Sebagai qowwam ada rasa gengsi bila kita..istrinya yang menasehati. Apalagi di depan anak-anaknya.

Lalu apa yang akan kita lakukan?

Berbisik ke pemilik hatinya suami.

Dalam setiap sujud.memohon agar suami meninggalkan kebiasaannya yg kurang bermanfaat dengan menggantinya dg perbuatan yg jauh lebih baik.

Istri tahan lisan untuk menasehati suami. Biarkan Allah yang akan langsung mentarbiyahnya karena bila kita yang menuntutnya banyak berubah. Suasana tidak enak dan akan menyebabkan perseteruan
Ada nasihat dari buku ust. Poppy
Pernahkah kita ngambek berat sampai mendiamkan suami karena ketika kita ingatkan suami tidak mau "nurut"?


Pernahkah kita memaksakan kehendak kita karena kita yakin, kita benar, hingga gantian suami yang kemudian mendiamkan kita?


Pernahkah kita merasa lebih tahu hingga merendahkan suami dengan kata-kata yang kita bahkan sudah tahu akan sangat menyakitinya?


Pernahkan kita merasa benar dengan pendapat kita, hingga memasang wajah menyepelekan suami dan mengingkari keputusan yang dibuatnya?


Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah


Siapa yang tidak ingin mendapatkan suami yang salih? Tentu semuanya ingin ya. Tapi jika cara istri yang menasehati ini dengan cara yang salah, bisa jadi istri bukan sedang menjalankan amalan ma'ruf, juatru malah mungkar. Akhirnya dosa lah yang didapat seperti yang disampaikan oleh Syaikh Sulaiman.


Sesungguhnya bagian dari kearifan seorang perempuan dalam berdakwah adalah menjaga prioritas dan memahami kebutuhan suami.


Lakukan lah kajian mendalam untuk mewujudkab kemaslahatan bersama antara suami dan istri, bukan sekadar mendakwahi suami dengan tanpa memperhatikan dampak akibatnya.


Tetapi yang harus dijadikan  target bagi kita adalah memberikan motivasi dalam kebenaran dan penerimaan nasihat terutama dalam hal-hal yang bersifat sunnah baik dari perkataan maupun perbuatan.


Maka pemahaman perempuan dalam dakwah secara umum dan terhadap suaminya secara khusus akan dapat mewujudkan hasil yang baik dan menghilangkan dampak buruk.


Jika kita menginginkan suami salih. Perbaiki lah terlebih dahulu diri kita. Dimulai dari salat kita yang tepat waktu.


Jika suami melihat kita telah konsisten dengan salat di awal waktu, lambat hari suami pun akan menyeimbangkan dirinya dengan menjadi jamaah salat di masjid di sekitar kita.


Jika ingin suami salih yang menyukai hadir dalam majelis ilmu. Berbuat baiklah kepadanya, dengan kebaikan dan perubahan sikap kita yang sesuai dengan arahan materi kajian, tanpa mengguruinya dan memberikan akhlak yang baik. Lambat hari suami akan belajar untuk menyeimbangkan diri, duduk dan betah di majelis ilmu bersama dengan kita.


Jika ingin suami salih. Maka salihkan diri kita. Mulailah dengan jilbab yang menutupi dada dan pakaian yang dianjurkan sesuai syariat. Maka lambat hari, suami akan malu menggandeng Anda yang berjilbab rapi menutup dada dengan pakaian longgar menutup seluruh bagian tubuh, suami akan memilih baju yang pantas untuk bersanding dengan Anda.


Maka, pantaskanlah diri kita menjadi wanita salihah. Perbaiki diri kita terlebih dahulu tanpa menuntut banyak untuk perubahan suami. Hatinya milik Allah, biarkanlah Allah yang akan merubahnya.


Jalankan peranmu. Menjadi istri dan ibu yang salihah. Serahkan suamimu agar Allah yang akan menggerakkannya.


WaAllahu 'alam bisshawab


Sumber : Buku Catatan Hati Ibu


Mari bersama menjadi ibu yang bahagia buat para ibu dan calon ibu...😘

0 $type={blogger}:

Posting Komentar