Siang itu, seorang siswa berdiri di ambang pintu kelas lantas berkata, “Bu, bahasa inggrisku bagaimana?” Aku kemudian menghampirinya. “Kenapa?” tanyaku. Aku dibuat bingung oleh pertanyaannya barusan. Maklum saja, sudah hampir setahun ini aku tak mengajarnya dan tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan seperti itu.
“Maaf ya Bu, dulu aku nangis di pojokan situ...” tunjuknya
ke sudut kelas. “Malu aku...”
Memori otakku teringat kejadian beberapa bulan lalu, saat
siswa tersebut masih duduk di kelas 7. Kala itu ia mengeluh padaku, “Kenapa sih
aku nggak bisa pelajaran matematika dan bahasa inggris?” Ia merutuki dirinya
sendiri. Merasa kesal karena perlu waktu lebih lama dibanding teman-temannya
untuk menguasai materi yang kuajarkan. Butiran bening mengaliri pelupuk
matanya. Ia berusaha menyembunyikan tangis yang menyembul di wajahnya.
Menutupinya dengan kedua lengannya di atas meja. Aku berusaha menenangkannya
sebisaku. Menceritakan kisah Thomas Alfa Edison. Belajar meyakinkannya bahwa ia
mempunyai kelebihan lain yakni di bidang tahfidz dan menulis. Kedua bola mataku
sudah hampir tergenangi air melihatnya kala itu, namun berusaha kutahan agar
tak tumpah.
“Nggak apa. Terus semangat ya...” ujarku ketika melihatnya
beranjak pergi setelah mengucapkan kalimat tadi.
Ah, siswa itu. Ia adalah siswa yang
tekun berusaha. Tak henti berjuang meski kesulitan menghampirinya. Pantang menyerah meski ia kerap mengalami kesulitan dan butuh belajar secara privat denganku. Memang ia memerlukan waktu lebih dibanding yang lain untuk memahami suatu hal. Aku berpikir bahwa itu yang membuatnya istimewa.
tekun berusaha. Tak henti berjuang meski kesulitan menghampirinya. Pantang menyerah meski ia kerap mengalami kesulitan dan butuh belajar secara privat denganku. Memang ia memerlukan waktu lebih dibanding yang lain untuk memahami suatu hal. Aku berpikir bahwa itu yang membuatnya istimewa.
Beberapa bulan yang lalu saat bertemu denganku, ia berkata,
“Bu, ternyata aku baru tahu bakat tersembunyiku bahasa inggris.” Sungguh
kalimat yang membuatku haru biru. Entah apakah kemampuan bahasa inggrisnya di
kelas 8 sudah meningkat atau masih tetap sama. Namun yang kudengar dari
pengajar kelas 8, ia masih mengalami kesulitan yang sama meski sudah melebihi
ambang batas dalam berusaha.
Saat kusapa, “Gimana di kelas 8?” ia menjawab
“Alhamdulillah,” seraya tersenyum dengan muka bersemu merah.
Aku merasa setelah hampir dua tahun ini, aku kehilangan
beragam momen istimewa. Lebih tepatnya tak lagi mengingat masa-masa
menyenangkan mengajar. Kehadirannya siang ini seolah mengingatkanku kembali
bahwa “apa-apa yang berasal dari hati, akan sampai ke hati”. Aku sepertinya
lupa bagaimana jatuh cinta. Jatuh cinta pada mengajar. Mencintai anak-anakku.
Mengajar dengan hati... Melibatkan kegembiraan dan ketulusan saat berinteraksi
dengan mereka. Begitu dekat. Begitu menyentuh emosi.
Seperti satu setengah tahun yang lalu...
Saat seorang siswa yang tengah sakit dan beristirahat di
asrama tiba-tiba bergabung dengan kelas kami yang tengah belajar di luar kelas.
Tiba-tiba datang dengan luka berbalut kapas yang masih menempel di keningnya
seraya mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaanku. “Saya Bu. Jawabannya bla,
bla, bla. Dinilai ya saya...” ujarnya semangat kala itu.
Atau saat seorang siswa dari kelas lain tiba-tiba bergabung
dengan kelas yang tengah kuajar. Duduk disana mendengarkan penjelasanku.
Saat seorang anak membawakan sepatuku untuk disimpannya agar
tak kehujanan ketika hari hujan dan kami sedang belajar di masjid.
Saat mereka heboh menggodaku dengan lelucon konyolnya...
Saat seorang siswa mengatakan padaku kalau ia
baru saja mendapatkan sepucuk surat dan hadiah dari dua orang gadis yang
berbeda lantas bertanya apa yang sebaiknya ia lakukan.
Saat dua orang siswa menghampiriku di tempat parkir ketika
akan pulang. Dan salah seorang diantaranya mengatakan padaku kalau ia ingin
kami bertiga pergi ke giant mall. Ia
ingin jalan-jalan. “Kenapa tidak mengajak guru laki-laki saja?” tanyaku saat
itu. Ia menggeleng kuat-kuat. “Nggak mau, Bu.” Dan keesokan harinya seorang
yang lain berkata padaku bahwa kawannya marah karena kemarin tak diajak pergi
ke giant saat ulang tahunnya. Ada-ada
saja.
Atau... Saat mereka memanggil-manggil namaku ketika aku lewat.
Menyapaku dengan paduan suara yang kompak. Bahkan para siswi mengantarkanku
yang tengah berjalan kaki ke tempat tujuan. Mereka menemaniku sepanjang jalan.
Saat tengah istirahat, kami kerap bercerita banyak hal di
lantai 3. Mereka banyak berceloteh tentang uneg-uneg mereka yang terkadang
membuatku geli, senang, kesal ataupun bangga. Semuanya bercampur aduk namun
masih membentuk perasaan yang disebut sayang.
Mereka pun kerap hadir dalam mimpi-mimpiku. Anak-anakku... Dan
saat ada seseorang yang bertanya apa yang membuatku kerasan di sekolah itu, aku
menjawab “Anak-anak”.
Tapi kini... entah! Rasanya ada yang berbeda. Aku tak lagi
merasakan lonjakan kesenangan setiap kali kulangkahkan kaki memasuki kelas.
Sepasang mataku tak lagi menatap mereka dengan penuh kasih. Kini rasanya aku
membuat jarak dengan mereka. Seolah ada tembok penyekat tinggi yang membatasiku.
Semakin lama rasa itu semakin terkikis. Mungkin ada yang salah dengan hatiku.
Mungkin hatiku sudah banyak teracuni virus-virus hati. Mungkin...
Aku tahu dan aku merasa ada yang aneh denganku. Tapi aku tak
mengerti apa yang salah dengan diriku. Aku, seolah lupa bagaimana jatuh cinta
pada mereka. Anak-anakku... Padahal mereka telah mengajariku bagaimana menjadi
seorang ibu. Dan aku ingin merasakan rasa itu kembali. Mengajar mereka dengan hati.
Namun lagi-lagi aku seolah lupa dan tak tahu caranya. Mungkin dengan mengenang
kembali masa-masa menyenangkan itu, hatiku akan kembali hidup. Hidup karena
cinta mereka. Hidup karena kenangan indah yang terpatri dalam hati. Semoga...
0 $type={blogger}:
Posting Komentar