Kajian Sabtu Pagi, 19 April 2014


 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah hadits:
 Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Imam Ghazali dalam kitab Ikhya' Ulumuddin mengklasifikasikan perkataan menjadi empat macam:
1. Perkataan yang mengandung kemadzaratan (keburukan) saja.
2. Perkataan yang mengandung unsur kebaikan.
3. Perkataan yang mengandung unsur kebaikan dan kemadzaratan (keburukan).
4. Perkataan yang tidak ada manfaat dan keburukannya. 

Berdasarkan hadits diatas, Imam Ghazali menegaskan bahwa kita diminta diam untuk perkataan yang mengandung kemadzaratan (keburukan) saja dan perkataan yang mengandung unsur kebaikan dan kemadzaratan (keburukan). Selain itu, kita diminta untuk menghindari perkataan yang tidak ada manfaat dan keburukannya karena perkataan semacam ini adalah perkataan yang tidak berguna. Selanjutnya untuk perkataan yang mengandung unsur kebaikan, memang sebaiknya disampaikan, namun kita harus berhati-hati ketika menyampaikkannya. Karena bisa jadi dalam perkataan semacam ini terselip beberapa bahaya lisan.

Bahaya lisan tersebut, masih dalam kitab Ikhya' Ulumuddin, antara lain:


1. Perkataan yang tidak bermanfaat.
2. Berlebih-lebihan dalam berbicara.
3. Mengucapkan ucapan yang mengandung unsurn maksiat/kebathilan.
4. Berbantah-bantahan dan berdebat.
5. Cekcok mulut.
6. Berbicara yang dibuat-buat.
7. Ucapan caci maki atau berkata keji.


8. Melaknat.
9. Nyanyian dan syair.
10. Banyak bercanda.
11. Mengolok-olok dan mengejek.
12. Menyebarkan rahasia atau aib seseorang.
13. Sumpah palsu.
14. Bohong dalam ucapan.
15. Ghibah atau gosip.
16. Namimah atau adu domba.
17. Munafik atau bermuka dua.
18. Pujian yang berlebihan.
19. Melalaikan kesalahan-kesalahan kecil dalam kandungan ucapan.
20. Pertanyaan seorang awam terhadap sifat-sifat Allah.

Batasan untuk perkataan yang membahayakan lisan ada 2, yakni:
1. Apabila kita diam atau tidak mengutarakannya, kita tidak berdosa.
Contohnya, ketika melihat seseorang lewat di depan kita dan memakai baju yang bagus, kita menanyakan pada orang tersebut dimana ia membelinya. Jika kita diam dalam hal ini, kita tidak berdosa.
2. Tidak membahayakan diri dan harta.
Contohnya, apabila kita tidak menjawab dimana kita membeli baju yang ditanyakan seseorang tersebut, itu akan membahayakan usaha kita karena kurangnya promosi. Maka akan lebih baik jika kita menjawabnya.

2 komentar:

  1. nancep banget nasehatnya. kalo ngobrolnya dgn tujuan me-reducing penat gapa2 ya?? bkn maksud untuk menawar kok. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pas ust.saif nympaikn ni dan smp ke poin 10, aq, mbk mey n' kak inet pd sling snyum, trs usth.diyah nanya ngapain pd snyum. tau kn knp... hihi. =B

      Hapus